Berkaitan dengan post saya sebelumnya mengenai kaki bengkak, saya browsing2 tentang kaki bengkak selama kehamilan, yang ternyata wajar buat ibu hamil, kecuali kalau disertai dengan sakit kepala berat, karena bisa jadi gejala preeklampsia. Berhubung kebengkakan kaki saya disertai sakit kepala juga, walhasil saya jadi panik walopun kemarin udah ke dr. Frizar dan dinyatakan semua hasil tes darah maupun urin plus tekanan darah juga normal.
Tapi karena kebengkakan kaki dan sakit kepala yang saya alami ga ilang – ilang, tambah panik kan? Apalagi tetelponan sama Dian katanya temannya pernah ada yang meninggal gara2 eklampsia pada saat melahirkan (anaknya sih alhamdulillah selamat). Therefore, I browse some more info tentang preeklampsia yang katanya faktor paling banyak menyebabkan kematian pada ibu melahirkan (amit amit ketok meja).
Ini info yang saya dapet dari milis nakita :
HATI-HATI: PREEKLAMPSIA !
Kaki bengkak saat hamil, itu wajar. Tapi jika disertai pusing atau sakit kepala, hati-hati lo! Segera periksa ke dokter. Siapa tahu Anda mengidap preeklampsia.
Preeklampsia atau keracunan kehamilan memang penyakit yang hanya terjadi saat hamil. “Penyakit ini tak terjadi pada wanita yang tidak hamil,” jelas dr. Rudy Setyadi, Sp.OG dari RS Mitra Keluarga.
Sebetulnya istilah preeklampsia, dalam dunia kedokteran saat ini, sudah tak digunakan lagi. Sebagai gantinya, para dokter menyebutnya gestosis. Artinya, penyakit yang hanya terjadi saat kehamilan.
Ibu hamil mana pun dapat mengalami preeklampsia. Tapi,umumnya ada beberapa ibu hamil yang lebih berisiko, yaitu ibu hamil untuk pertama kali, ibu dengan kehamilan bayi kembar, ibu yang menderita diabetes, memiliki hipertensi sebelum hamil, ibu yang memiliki masalah dengan ginjal, dan hamil pertama di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun. Ibu yang pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya akan ada kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya. Adakalanya juga tidak.
Sayangnya penyebab preeklampsia sampai saat ini masih merupakan misteri. “Tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju,” tutur lulusan Fakultas Kedokteran UI ini. Yang jelas, preeklampsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, di samping infeksi dan perdarahan.
GEJALA YANG MUNCUL
Kondisi preeklampsia sangat kompleks dan sangat besar pengaruhnya pada ibu maupun janin. Gejalanya dapat dikenali melalui pemeriksaan kehamilan yang rutin. Kendati tak jarang si ibu merasa dirinya sehat-sehat saja.
“Adanya preeklampsia bisa diketahui dengan pasti, setelah pada pemeriksaan didapatkan hipertensi, bengkak, dan protein dalam urin,” terang Rudy.
Preeklampsia biasanya muncul pada trimester ketiga kehamilan. Tapi bisa juga muncul pada trimester kedua. Bentuk nonkompulsif dari gangguan ini terjadi pada sekitar 7 persen kehamilan. Gangguan ini bisa terjadi sangat ringan atau parah.
Secara klinis, gejala-gejalanya ditandai oleh:
- Penemuan tekanan darah yang tinggi ataupun peningkatan tekanan darah dari biasanya. Itu merupakan hal penting untuk menentukan seorang ibu hamil mengalami preeklampsia atau tidak. Sebagai patokan digunakan batasan tekanan darah lebih dari 130/90 mmHg.
- Bengkak dapat mudah dikenali di daerah kaki dan tungkai. Pada keadaan yang lebih berat didapatkan bengkak di seluruh tubuh. Pembengkakan ini terjadi akibat pembuluh kapiler bocor, sehingga air yang merupakan bagian dari sel merembes keluar dan masuk ke dalam jaringan tubuh dan tertimbun di bagian tersebut.
- Terdapat kadar protein tinggi dalam urin karena gangguan pada ginjal. Gejala preeklampsia ringan menunjukkan angka kadar protein urin lebih tinggi dari 500 mg per 24 jam. Yang parah dapat mencapai angka 5 gram dalam 24 jam. Pengeluaran urin pun kurang dari 400 ml per 24 jam.
- Kenaikan berat badan lebih dari 1,36 kg setiap minggu selama trimester kedua, dan lebih dari 0,45 setiap minggu pada trimester ketiga.
PERJALANAN PENYAKIT
Seluruh organ tubuh dapat terpengaruh oleh preeklampsia, misalnya:
- Otak
Dapat terjadi pembengkakan di otak sehingga timbul kejang dengan penurunan kesadaran yang biasa disebut eklampsia. Dapat juga terjadi pecahnya pembuluh darah di otak akibat hipertensi.
- Paru-paru
Bengkak yang terjadi di paru-paru menyebabkan sesak napas hebat dan bisa berakibat fatal.
- Jantung
Terdapat payah jantung.
- Ginjal
Ditemukan adanya gagal ginjal.
- Mata
Bisa terjadi kebutaan akibat penekanan saraf mata yang disebabkan bengkak maupun lepasnya selaput retina mata. Kebanyakan bersifat sementara. Kendati demikian, pemulihannya memakan waktu cukup lama.
- Sistem darah
Terjadi pecahnya sel darah merah dengan penurunan kadar zat pembekuan darah.
AKIBAT PADA JANIN
Janin yang dikandung ibu hamil pengidap preeklampsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen di bawah normal. Keadaan ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang menyalurkan darah ke plasenta menyempit.
Karena buruknya nutrisi, pertumbuhan janin akan terhambat sehingga terjadi bayi dengan berat lahir yang rendah. Bisa juga janin dilahirkan kurang bulan (prematur), biru saat dilahirkan (asfiksia), dan sebagainya.
Pada kasus preeklampsia yang berat, janin harus segera dilahirkan jika sudah menunjukkan kegawatan. Ini biasanya dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu tanpa melihat apakah janin sudah dapat hidup di luar rahim atau tidak. Tapi, adakalanya keduanya tak bisa ditolong lagi.
Dokter tak akan membiarkan penyakit ini berkembang makin parah. Bila perlu, tanpa melihat usia kehamilan, persalinan dapat dianjurkan atau kehamilan dapat diakhiri. Tergantung keadaan, persalinan dilakukan dengan induksi atau bedah caesar.
Lantaran itu, ibu hamil harus melakukan pemeriksaan rutin dan konsultasi pada dokter. Minimal setiap bulan pada kehamilan awal dan seminggu sekali menjelang kelahiran. Maksudnya, agar bisa segera diketahui jika ada gejala preeklampsia. Jangan tunggu sampai parah!
Menjalani Kehamilan Dengan Rileks
Banyak orang tua menyarankan agar ibu hamil menjalani kehamilannya dengan rileks. Kecemasan menghadapi persalinan hanya akan merugikan Anda. Bisa diduga Anda akan cemas sepanjang kehamilan. Selain itu, janin dalam perut pun menjadi tak nyaman karena kondisi ibu yang demikian.
Ingat, kehamilan adalah anugerah. Tak semua wanita diberi kesempatan yang sama. Jadi, jalani hari-hari Anda dengan sukacita. Perlu diingat pula, kehamilan hanya berjalan sembilan bulan. saja. Setelah itu, Anda akan memperoleh hadiah yang luar biasa: seorang bayi.
Teknik relaksasi umumnya bisa membantu Anda mengurangi kecemasan dan ketegangan yang berlebihan. Cobalah Anda melakukannya saat ketegangan muncul. Minta suami menemani.
Relaksasi bisa dilakukan dengan mencoba bersantai, duduk sambil memejamkan mata. Relaksasikan otot-otot tubuh, dari otot kaki, perlahan-lahan naik ke atas tungkai, punggung, leher, dan wajah. Bernapaslah lewat hidung, tarik dan hembuskan perlahan-lahan. Ulangi selama 10 sampai 20 menit.
Bisa juga dilakukan dengan cara tarik napas perlahan dan melalui hidung. Sambil melakukannya, tekan perut ke arah luar. Hitung sampai empat. Biarkan otot pundak dan leher Anda rileks. Lalu, keluarkan napas perlahan-lahan dan tenang. Ulangi beberapa kali sampai Anda merasa tenang.
Agar Lebih Nyaman Bersama Preeklampsia
Umumnya dokter akan menganjurkan istirahat total (bed rest). Jika tak terlalu membahayakan, cukup dilakukan di rumah. Karena itu, Anda sangat menentukan agar istirahat menjadi lebih nyaman. Ingat, ini demi keselamatan Anda dan janin.
* Istirahat Total.
Istirahat total dapat mengurangi kerja jantung ibu. Suplai darah ke rahim pun lebih terjaga kecukupannya. Dengan kata lain, aktivitas yang meningkat menyebabkan tekanan darah meningkat lebih tinggi lagi. Lantaran itu istirahat total merupakan solusi terbaik.
Istirahat total berarti berbaring di tempat tidur. Sebaiknya berbaring ke sisi sebelah kiri untuk meningkatkan aliran darah pada janin.
Meninggalkan tempat tidur hanya bila Anda perlu ke kamar mandi. Usahakan kamar dalam keadaan gelap atau remang-remang dengan stimulasi sesedikit mungkin.
* Dapatkan Pertolongan.
Mintalah pada keluarga, teman, atau pembantu rumah tangga untuk menggantikan segala tugas Anda di rumah sebagai ibu rumah tangga. Misalnya, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, belanja dan membersihkan rumah. Bila tak ada yang membantu, tanyakan pada rumah sakit apakah Anda bisa memperoleh perawat rumah.
Bila Anda memiliki anak kecil, mintalah keluarga, teman Anda atau pengasuhnya untuk selalu menemani. Atau, biarkan si kecil tinggal beberapa hari dengan keluarga Anda. Mungkin cara ini dapat membantu anak untuk mengalami hal baru sebagai sebuah liburan. Sekaligus membuat Anda bisa jauh lebih tenang.
* Lakukan Apa yang Dapat Anda Lakukan.
Tinggal di tempat tidur tak berarti Anda tak dapat melakukan apapun. Anda dapat merencanakan, misalnya, menu makanan, mengurus keuangan, membaca, menonton televisi, dan memutar musik lembut.
* Kurangi Makanan Bergaram.
Sejumlah besar garam yang masuk ke dalam darah Anda dapat menyebabkan volume darah di pembuluh darah bertambah. Akibatnya, jantung bekerja lebih kuat dan tekanan darah pun meningkat. Jadi, aturlah menu makanan Anda dengan kecukupan gizi seimbang dan protein tinggi seperti daging, ikan, susu, telur, keju, dan kacang-kacangan.
Hindari makanan yang mengandung banyak garam (tinggi natrium). Natrium banyak terdapat pada garam, bumbu dapur, bahan pengembang maupun pengawet makanan. Karena itu, Anda perlu menghindari makanan camilan, seperti biskuit, kue-kue, makanan instan, banyak saus, makanan kaleng, dan sebagainya.
* Perbanyak Minum.
Anda bisa minum air putih lebih banyak dari biasanya. Air akan mendorong garam ke luar tubuh. Dengan banyak minum, Anda menjadi lebih sering ke toilet sehingga kelebihan garam bisa terbawa keluar. Minimal Anda minum 2 liter per hari.
* Tertib Minum Obat.
Jangan sekali-kali melanggar aturan dokter. Setiap obat yang dikonsumsi harus atas persetujuan dan anjuran dokter. Biasanya dokter akan memberi obat antihipertensi. Dan bila perlu diberikan obat penenang.
Riesnawiati Soelaeman
WASPADAI Tekanan Darah Tinggi
Umumnya tekanan darah tinggi yang terjadi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan disebut dengan preeklampsia. Waspadai karena dapat berakibat fatal. Berikut tanya-jawab seputar preeklampsia oleh Santi Hartono dengan Dr. Adi Wahyuono, SpOG.
Bagaimana sebenarnya gejala preeklampsia?
Gejala umum preeklampsia adalah berupa tekanan darah di atas normal, sembab pada kedua tungkai dan terdapat protein dalam air seni. Namun terkadang, preeklampsia muncul tanpa disertai keluhan. Jadi ibu hamil merasa dirinya sehat-sehat saja, setelah diperiksa saat kontrol rutin baru ketahuan kalau ibu menderita hipertensi. Preeklampsia dapat berupa preeklampsia ringan, preeklampsia berat dan eklampsia.
Lengkapnya gejala preeklampsia sebagai berikut:
* Penemuan tekanan darah yang tinggi ataupun peningkatan tekanan darah dari biasanya. Sebagai patokan digunakan batasan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.
* Bengkak di daerah kaki dan tungkai. Pada keadaan yang lebih berat didapatkan bengkak di seluruh tubuh.
* Terdapat kadar protein dalam urine karena gangguan pada ginjal. Gejala preeklampsia ringan menunjukkan angka kadar protein urine lebih tinggi dari 500 mg per 24 jam. Yang parah dapat mencapai angka 5 gram dalam 24 jam.
Apa penyebab preeklampsia?
Penyebab preeklampsia sampai saat ini tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju. Semuanya baru didasarkan pada teori yang dihubung-hubungkan dengan kejadian. Itulah sebab preklampsia disebut juga “disease of theory”, gangguan kesehatan yang berasumsi pada teori. Yang jelas, preeklampsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, disamping infeksi dan perdarahan. Oleh sebab itu, bila ibu hamil sudah ketahuan berisiko, terutama sejak awal kehamilan, dokter kebidanan dan kandungan akan memantau lebih ketat kondisi kehamilan tersebut.
Apakah gaya hidup seperti pola makan atau kurang berolahraga dapat meningkatkan risiko preeklampsia?
Konsumsi garam yang berlebihan atau asupan kalsium yang rendah merupakan salah satu faktor dari berbagai faktor pencetus terjadinya preeklampsia.
Apa saja risiko preeklampsia pada janin?
Karena pada ibu yang menderita preeklampsia aliran darah utero-plasenta berkurang, janin akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen di bawah normal. Buruknya nutrisi mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat sehingga bayi berisiko lahir dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan (prematur), biru saat dilahirkan (asfiksia), dan penyulit lainnya.
Pada kasus eklampsia, dokter tak akan membiarkan penyakit ini berkembang makin parah dan membahayakan nyawa ibu. Pada keadaan ini kehamilan perlu diakhiri, baik dengan cara induksi atau bedah sesar.
Risiko tekanan darah tinggi bagi ibu?
Risiko tekanan darah yang begitu tinggi dapat berupa terjadinya stroke, kejang atau bahkan kematian pada ibu dan janin. Komplikasi berat lain yang dapat terjadi disebut sindroma HELLP. H adalah haemolysis (rusak dan pecahnya sel darah merah), EL adalah elevated liver enzymes (meningkatnya kadar enzim hati), dan LP berarti low platelet count (rendahnya kadar trombosit). Gangguan ini dapat muncul pada kehamilan, persalinan atau pascapersalinan, dan perlu segera ditangani oleh tim dokter yang ahli.
Keadaan ibu akan membaik setelah terjadi persalinan, tapi ada juga yang mengalami penyulit terjadinya gangguan ginjal dan hati bahkan meninggal dunia.
Bagaimana pencegahan preeklampsia?
Ibu hamil harus melakukan pemeriksaan kehamilan dan konsultasi pada dokter secara teratur. Minimal setiap bulan pada kehamilan awal sampai usia kehamilan 30 minggu; dan 2 minggu sekali sampai dengan kehamilan 36 minggu; kemudian setiap minggu sampai kelahiran.
Siapa yang berisiko terkena preeklampsia?
Ibu hamil mana pun dapat mengalami preeklampsia. Tapi yang lebih berisiko adalah:
* Hamil untuk pertama kali
* Mempunyai kehamilan bayi kembar
* Memiliki hipertensi sebelum hamil
* Memiliki masalah dengan ginjal
* Hamil di atas usia 35 tahun
* Ibu yang pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya.
Jadi apakah berarti ibu penderita tekanan darah tinggi tidak boleh hamil?
Begini, penderita tekanan darah tinggi harus selalu minum obat setiap hari untuk mengontrol tekanan darahnya. Meskipun hamil, obat-obatan ini tidak mungkin distop karena berisiko membuat tekanan darah ibu kembali naik. Pada awal kehamilan obat ini bisa memengaruhi pembentukan janin, pemben-tukan organ dan sebagainya.
Toh, bukan berarti penderita darah tinggi tak boleh hamil. Hanya dianjurkan yang bersangkutan berkonsultasi dengan dokter ahli kebidanan dan kandungan serta dokter penyakit dalam sebelum memutuskan untuk hamil.
Bagaimana bila ibu penderita tekanan darah tinggi hamil?
Biasanya tim dokter akan memilih obat yang dampaknya paling aman bagi janin. Tapi perlu disadari bahwa obat paling aman sekalipun bukan berarti membebaskan ibu dan bayi dari risiko pengaruh obat. Apalagi sebelum kehamilan pun ibu sudah rutin mengonsumsi obat yang tentunya memberi dampak pada janin sejak trimester pertama, yaitu pada masa-masa pembentukan janin dan organ tubuh janin.
Perlu disadari ibu hamil dengan tekanan darah normal saja bisa berisiko preeklampsia, apalagi ibu yang sudah mengidap tekanan darah tinggi. Yang jelas, informed consent dari risiko ini harus sudah diketahui sejak awal, termasuk kemungkinan terminasi kehamilan bila tiba-tiba tekanan darah ibu melonjak drastis dan berakibat eklampsia. Ibu penderita darah tinggi yang hamil akan masuk kategori kehamilan risiko tinggi dan akan dipantau lebih ketat oleh dokter, terutama setelah trimester kedua karena pada masa ini bisa saja tekanan darah tiba-tiba melonjak.
Mengurangi BENGKAK KAKI
Jumlah cairan tubuh yang meningkat selama kehamilan akan semakin memuncak antara trimester kedua-ketiga masa kehamilan. Karena gaya gravitasi bumi, maka cairan tersebut akan mengumpul di bagian bawah tubuh. Itulah sebabnya tungkai ibu hamil jadi membengkak. Kondisi ini disebut edema.
Berikut beberapa tip untuk mengatasi pembengkakan kaki:
* Bila sedang berbaring, letakkan kaki di atas tumpukan bantal kecil. Sebaiknya jangan berbaring hanya pada satu posisi. Berbaring pada posisi yang berlainan dapat mengurangi tekanan pada pembuluh-pembuluh darah.
* Hindari berdiri atau duduk terlalu lama. Usahakan memperbanyak gerak, agar sirkulasi darah lancar. Latihan yang baik adalah jalan kaki dan senam secara teratur.
* Kenakan sepatu bersol rendah agar Anda tidak mudah kehilangan keseimbangan dan menjaga beban pada tubuh.
* Perhatikan asupan makanan dengan mengurangi makanan bergaram (tinggi natrium). Natrium banyak terdapat pada garam, bumbu dapur, bahan pengembang maupun pengawet makanan. Karena itu, hindari makanan camilan, seperti biskuit, kue-kue, makanan instan, banyak saus, makanan kaleng, dan sebagainya.
* Perbanyak minum air putih lebih dari biasanya karena air akan mendorong garam ke luar tubuh. Dengan banyak minum, Anda menjadi lebih sering ke toilet sehingga kelebihan garam bisa terbawa keluar. Minimal ibu hamil dianjurkan minum 2 liter per hari.
* Bila kaki terasa lelah, dapat direndam dalam air hangat sambil memutar-mutar pergelangan kaki.
* Jika ibu hamil mengalami pembengkakan pada pagi hari atau berat badan bertambah lebih dari 1 kg setiap minggu pada pertengahan kehamilan, waspadalah. Karena bisa jadi merupakan tanda-tanda terjadinya preeklampsia. Segera periksakan ke dokter!